Pulau Kampai, Kuburan Panjang Misterius

Bagi sebagian masyarakat di Sumatera Utara, Pulau Kampai identik dengan terasi. Ya… Pulau ini adalah salah satu penghasil terasi terbaik di Indonesia. Bahkan, konon terasi Pulau Kampai sudah sampai ke negeri jiran.

Kepopuleran terasi ini jugalah yang mengangkat nama pulau ini. Apakah Pulau Kampai hanya populer karena terasi saja? Ternyata tidak. Pasalnya jika Anda mengunjungi pulau ini, Anda juga akan melihat beberapa peninggalan budaya yang menyimpan beragam nilai sejarah yang masih misterius.

Pulau Kampai adalah nama sebuah pulau yang terletak di Kabupaten tingkat II Langkat, Kecamatan Pangkalansusu. Sebelum kaki ini menginjak di tanah Pulau Kampai, kita harus menyeberang lautan dengan menggunakan speed boat. Ongkosnya cukup murah. Sekali naik para penumpang hanya ditarik 8 ribu rupiah , itu dulu gak tau sekarang berapaan. Jika kita membawa sepeda motor dikenakan tambahan biaya 5 ribu rupiah.

”Setiap hari kita melayani rute perjalanan dari dermaga ini ke Pulau Kampai. Ada juga penumpang yang menuju ke Pulau Sembilan,” ujar Buyung salah seorang pemilik boat.

Kuburan “Misterius”

Kuburan Panjang

Kuburan Panjang

Menurut kepala desa (buyung), masyarakat Pulau Kampai didiami oleh beberapa suku. Di antaranya Jawa, Aceh, Melayu, perantau dari Malaysia dan Karo. Warga Tionghoa juga ada walaupun jumlahnya tidak sebanyak dulu.”Saat ini yang tinggal adalah orangtua dan anak-anak. Kalau yang remaja sudah banyak yang mencari kerja ke luar,” terang Buyung.

Ditemani dengan M Yusuf dan juga Abu Bakar, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju kuburan “misterius”. Orang-orang di sini menyebutnya dengan Kuburan Keramat Panjang. Dari dermaga Pulau Kampai, kuburan tersebut hanya berjarak sekitar 300 meter.

Sebuah bangunan berpagar kayu menyergap langkah kami. Rasa penasaran pun langsung menyeruak dalam hati. Apakah betul kuburan itu memiliki ukuran yang berbeda dengan kuburan lain. Ternyata benar, di dalam bangunan berjejer dua buah nisan. Yang satu memiliki ukuran sekitar 6 meter dan yan satunya lagi 8 meter. Di kedua nisan tersebut tidak ada satu pun identitas yang bisa dijadikan bukti kuburan siapa sebenarnya.

Masyarakat di sini percaya jika kuburan ini sudah ada sebelum zaman penjajahan Belanda. Hingga saat ini, kuburan keramat panjang ini masih sering dikunjungi oleh masyarakat untuk berdoa.”Sebagai salah seorang yang sejak kecil tinggal di sin, saya tidak pernah tahu kuburan siapa sebenarnya. Orang tertua di sini saja juga tidak tahu,” ungkap M.Yusuf menjelaskan.

Menurut M Yusuf, kuburan ini sebelumnya pernah diteliti ilmuan dari Belanda. Namun hasilnya nihil. Ukiran di batu nisan yang mirip dengan tulisan China, sempat diyakini masyarakat jika kuburan ini adalah kuburan etnik Tionghoa. Tapi lagi-lagi, teori tersebut masih belum bisa dipercayai seratus persen masyarakat sini.

Kemisteriusan Kuburan Panjang ini bukan hanya ini saja. Pasalnya, kuburan ini menurut warga memiliki penjaga khusus, yakni seekor harimau berwarna putih.”Dulu harimau putih itu sering dilihat oleh warga sini. Selain itu, dulunya di sini juga pernah ada orang yang meninggal, gara-gara memindahkan batu pusara yang ada di atas kuburan ini,” papar Yusuf menambahkan.

Hingga saat ini kuburan ini tetap masih menyimpan misteri. Namun meski begitu, dari beberapa data didapat penjelasan bahwa sesuai dengan namanya, Kuburan Keramat Panjang. Kuburan ini mengacu pada nama Teuku Keramat Panjang dan nama tersebut sudah dilafal sejak dari tiga generasi sebelum mereka. Sebuah nama yang juga memiliki hubungan erat dengan ulama besar dari Langsa.

Nama asli dari Teuku Keramat Panjang adalah Teuku Sulthan Muhammad. Ia berasal dari Pakistan dan seorang ulama besar. Saat tiba di Pulau Kampai, ia berusia 13 tahun dan menetap di Pulau Kampai sampai akhir hayatnya. Di Pulau Kampai ia bekerja menjadi pedagang, seperti jual-beli emas, kain dll.

Di samping sebagai pedagang, ia juga membuka perpustakaan seraya menulis buku-buku agama, bahan-bahannya beliau ambil dari Mesir. Mengingat ilmu agama beliau sangat luas, beliau juga berdakwah di Pulau Kampai.

Teuku Sulthan Muhammad menikah dengan seorang wanita berumur 14 tahun di Pulau Kampai, istri beliau bernama “Siti Bahara Silalahi”. Ayah Siti Bahara Silalahi berasal dari Kabanjahe yang semasa hidupnya ayah Siti Bahara Silalahi juga seorang pedagang Sedangkan ibu Siti Bahara Silalahi, berasal dari tanah Deli.

Kuburan Sang Pendekar Biola

Kuburan Pendekar Biola

Kuburan Pendekar Biola

Selain Kuburan Keramat Panjang, di pulau ini Anda juga bisa melihat kuburan lain yang memiliki nilai budaya. Kuburan tersebut adalah Mas Merah. Bedanya, jika kuburan Keramat Panjang masih menimbulkan “misteri”, kuburan Mas Merah sudah bisa diidentifikasi asalnya.

M Yusuf dan Abu Bakar yang menemani kami selama melakukan perjalanan di Pulau Kampai mengisahkan sejarah kuburan Mas Merah. Menurut mereka, kuburan ini adalah kuburan Salam, lelaki yang tinggal di Serawak Malaysia dan lahir sekitar tahun 1890.

Salam memiliki abang bernama Amran. Pada saat itu, Salam menjalin hubungan diam-diam dengan gadis bernama Rukiah. Hubungan ini tidak diketahui oleh orangtua Salam. Rukiah adalah seorang gadis baik dan berparas cantik, yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya dengan abangnya.

Dinikahkanlah Amran dengan Rukiah. Saat pernikahan mereka, Salam putus asa. Konon Salam melemparkan batu sebanyak tiga buah di tanah Serawak sebelum ia pergi. “Kalau timbul tiga buah batu yang ku lempar di tanah Serawak ini, barulah aku akan pulang,” ujar Abu Bakar menirukan ucapan Salam.

Saat pergi, Salam bertemu dengan Salmah. Salmah adalah kembang di Medan Labuhan-Belawan. Ayah Salmah bernama H Kasim. Ibu Salmah berutang pada seorang keturunan India bernama Tambi. Namun ia tidak mampu membayar utangnya. Oleh orangtuanya, Salmah dikawinkan dengan Tambi.

Di saat acara perkawinan Salmah dengan Tambi.Salam yang dijuluki pendekar biola memainkan biolanya sambil menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Kau adalah Mas Merahku”.Mendengar lag ini, Salmah langsung jatuh pingsan. Masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa Salmah adalah Mas Merah yang disebut Salam dalam lagunya. Salam kembali berputus asa dan kemudian pergi ke laut untuk menjadi nelayan di daerah Brandan.

Singkat cerita, saat ia dan seorang temannya Husein berkelana di lautan. Salam mendengar teriakan seorang wanita.Salam hendak menolong namun dihalangi oleh Husein. Husein berkata pada Salam, “Aku tidak berani kesana. Daerahnya sangat angker. Biasanya orang yang pergi kesana pasti tidak bisa kembali pulang,”.

Ternyata wanita itu adalah Salmah. Terjadilah perkelahian antara Pendekar Nayan dengan Salam. Akhirnya Pendekar Nayan yang menculik Salmah kalah dan bertemulah Salam dengan Salmah.

Mereka pun menikah selama sepuluh tahun dan tidak mempunyai keturunan. Suatu hari keduanya terkena penyakit cacar. Pada tahun 1920 tepatnya pada hari Jumat pukul 05.00 pagi Salam meninggal, dan disusul oleh Salmah pada pukul 06.00 pagi. Sebelum meninggal Salam berpesan kepada Husein, temannya, “Kalau nanti aku meninggal tolong kuburkan aku berdekatan dengan kuburan istriku, dan tanamkan bunga tanjung di atas nisan kuburan kami berdua,”. Bunga tanjung yang ditanam adalah kisah perjalanan cinta Salam sebagai tanda antara Semenanjung Malaysia, Medan Labuhan dan Pulau Kampai.

Tentang badroelyaman

tiada hal yang menarik
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s